BONDOWOSO - Kodim 0822 Bondowoso tengah memperbaiki dan membangun empat jembatan di beberapa titik.
Pelaksanaannya telah dimulai pada 30 Maret 2026, dan ditargetkan seluruh pembangunan empat jembatan tersebut dapat diselesaikan dalam waktu 1,5–2 bulan.
Di antaranya yakni jembatan di Sukowiryo yang menghubungkan Desa Sukowiryo dengan Desa Kejawan sepanjang 45 meter di perbatasan Kecamatan Bondowoso dan Grujugan. Kemudian, jembatan di Desa Sumbersalak sepanjang 35 meter yang juga menghubungkan akses ke Kecamatan Grujugan.
Daftar 4 Titik Jembatan Garuda di Bondowoso
Selain itu, pembangunan juga dilakukan di Desa Gayam, Kecamatan Botolinggo, dengan panjang jembatan 30 meter. Sementara itu, satu titik lainnya berada di Desa Gadingsari, Kecamatan Pakem, yang menjadi penghubung antara Kabupaten Bondowoso dan Situbondo.
Menurut Komandan Kodim 0822, Letkol Inf. Prawito, ini merupakan program Jembatan Garuda atau Jembatan Perintis yang diinisiasi pemerintah pusat dan dilaksanakan TNI Angkatan Darat.
Ia menjelaskan bahwa semula pihaknya mengusulkan sembilan titik jembatan yang dinilai mendesak untuk diperbaiki atau dibangun baru.
Namun, pada tahap awal, baru empat titik yang mendapatkan persetujuan anggaran untuk dikerjakan.
“Dari sembilan titik yang kita ajukan, saat ini yang disetujui untuk dilaksanakan pembangunan ada empat titik,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (1/4/2026) kemarin.
Menurut Prawito, jembatan di Gadingsari menjadi salah satu prioritas karena memiliki dampak besar terhadap aktivitas ekonomi masyarakat lintas kabupaten. Warga di wilayah Situbondo, seperti Sumberargo dan Sumbermalang, lebih bergantung pada akses ke Bondowoso untuk aktivitas pasar dan distribusi hasil pertanian.
Hal ini dikarenakan jika melintasi Bondowoso, jarak tempuhnya lebih cepat, yakni hanya sekitar 30 menit.
“Kalau ke Situbondo bisa sampai satu hingga satu setengah jam, dan aksesnya juga masih sulit,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kondisi jembatan sebelumnya di lokasi tersebut masih bersifat swadaya dengan material kayu dan bambu yang rentan rusak saat banjir.
Karena itu, pembangunan jembatan permanen dinilai sangat mendesak untuk menunjang keselamatan dan mobilitas warga.
Ia menambahkan, pengerjaan jembatan dilakukan secara padat karya dengan melibatkan masyarakat setempat serta tenaga teknis. Hal ini dilakukan agar pembangunan tidak hanya mempercepat infrastruktur, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga.
“Pengerjaan kita lakukan bersama masyarakat dengan pendampingan teknisi supaya konstruksi tetap aman dan tidak menimbulkan risiko di kemudian hari,” katanya.
Secara nasional, program Jembatan Garuda telah memasuki tahap ketiga. Namun, untuk wilayah Bondowoso, pembangunan ini menjadi tahap awal pelaksanaan.

